beranda » artikel » Mail5 pdf word print Bookmark and Share
29-Apr-2016

ARIEF DARYANTO: GONJANG GANJING BAWANG MERAH

Bawang merah salah satu komoditas pangan yang harganya bergejolak atau "volatile foods". Menurut data Badan Pusat Statistik, pada Januari 2016 inflasi kelompok bahan makanan bergejolak mencapai 2,40 persen (bulan kebulan) atau 6,77 persen (tahun ke tahun), terutama bersumber dari kenaikan harga pada komoditas daging ayam ras dan bawang merah. Beberapa bulan belakang ini harga bawang merah merangkak naik. Pada awal Maret 2016 harga bawang merah tembus hingga Rp60.000 per kg di Pasarminggu, Jakarta Selatan. Kenaikan harga bawang merah yang cukup signifikan sebenarnya bukan hal yang Baru. Lonjakan harga bawang merah selalu terjadi hampir setiap tahun akibat beberapa faktor. Fluktuasi harga bawang merah dapat diterangkan dengan prinsip ekonomi yang sederhana, yakni keseimbangan penawaran dan permintaan.
 
Produksi tak merata Ketika terjadi kelebihan penawaran atau excess supply, maka harga akan turun. Sebaliknya ketika terjadi kelebihan permintaan atau excess demand harga akan naik jika tanpa intervensi pemerintah. Penyebab utama fluktuasi harga bawang merah antara lain karena produksi bawang merah tidak merata sepanjang tahun dan sangat tergantung musim. Penataan sistem produksi yang menyeimbangkan musim kemarau dan musim hujan sangat diperlukan. Bawang merah banyak ditanam pada musim kemarau dan sebagian kecil ditanam pada musim hujan. Kelangkaan bawang merah biasa terjadi pada Maret—April, karena petani melakukan penanaman pada Juli hingga Agustus. Menanam bawang merah pada musim hujan sangat berisiko tinggi karena berpotensi terkena banjir atau terserang Kama dan penyakit yang membuat gagal panen. Permasalahan produksi lainnya adalah belum terwujudnya ragam, kuantitas, kualitas, dan kesinambungan pasokan yang sesuai dengan permintaan pasar dan preferensi konsumen. Selain karena fluktuasi pasokan oleh perubahan musim, fluktuasi harga juga karena distribusi produksi antarwilayah yang terpusat. Total produksi bawang merah Indonesia 75% berasal dari Jawa dan Bali, sekitar 10% berasal dari Nusa Tenggara, dan sisanya terdistribusi di Sumatera, Kalimantan, dan la in nya. Perbandingan produksi bawang merah di Jawa dan Bali yaitu sekitar 50% dari Jawa Tengah, 30% Jawa Timur, 15% Jawa Barat dan selebihnya berasal dari Yogyakarta, Banten, dan Bali. Kendala transportasi, logistik, dan kondisi iklim sering menghambat distribusi ke wilayah konsumen. Akibatnya harga bawang merah di wilayah-wilayah itu meningkat. Stabilisasi pasokan dan harga membutuhkan dukungan kebijakan yang bersifat holistik dan tidak bersifat"fragmented". Peningkatan produktivitas dan produksi antara lain dengan 7 cara, yaitu pertama peningkatan akses terhadap benih baru, input pelengkap dan jasa-jasa pertanian untuk peningkatan produksi bawang merah dalam memenuhi kebutuhan permintaan yang meningkat. Kedua, pengembangan keterkaitan pasar antara pasar petani skala kecil dengan pelaku-pelaku lain dalam rantai nilai untuk meningkatkan posisi tawar para petani.
 
Peraturan presiden Ketiga peningkatan akses terhadap permodalan dan informasi pasar kepada para petani terutama yang berskala kecil. Keempat peningkatan kapasitas organisasi atau kelembagaan untuk mencapai economies of scale. Kelima peningkatan keahlian dalam teknik budidaya bawang merah yang lebih modern dan penanganan pascapanen (termasuk dukungan gudang penyimpanan berpendingin). Keenam dukungan kebijakan untuk para petani kecil agar lebih berorientasi kepada peningkatan komoditas dan kontinuitas produk serta ketepatan waktu dalam penghantaran, dan terakhir kemitraan dengan industri untuk mendapatkan akses teknologi baru, pendampingan atau pembinaan dan jaminan harga. Selain itu peran permintaan juga tidak kalah penting. Pemerintah perlu meningkatkan promosi konsumsi ke arah penggunaan bawang merah olahan seperti bawang garing, tepung bawang dan minyak bawang yang siklus hidupnya lebih lama.

Begitu juga pengembangan ke industri hilir untuk memasok kebutuhan industri seperti industri mi instan, hotel, restoran, dan lain-Iain yang mempunyai nilai tambah perlu dikembangkan. Terkait dengan stabilisasi harga pangan, Presiden Joko Widodo bahkan menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Harga Kebutuhan Pokok dan Barang Penting pada 15Juni 2015.
 
Perpres 71/2015 memberikan kewenangan bagi pemerintah untuk membuatkebijakanharga komoditasbarang kebutuhan pokok dan barang penting. Pemerintah memiliki kewenangan untuk menetapkan harga khusus menjelang, saat, dan setelah hari besar keagamaan atau saat terjadi gejolak harga. Kewenangan itu digunakan untuk komoditas bawang merah dan 13 komoditas barang kebutuhan pokok lainnya.
 
Penentuan 14 barang kebutuhan pokok/barang penting didasarkan atas tiga faktor utama yaitu besaran alokasi pengeluaran rumah tangga yang tinggi, pengaruh terhadap inflasi, dan besaran kandungan gizi untuk kebutuhan manusia.
 
(Ir Arief Daryanto, MEc, PhD, Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis, Sekolah Bisnis lnstitut Pertanian Bogor)
 
Download Selengkapnya

Kembali ke arsip