beranda » artikel » Mail5 pdf word print Bookmark and Share
01-Jun-2017

ARIEF DARYANTO: MINUM LEBIH BANYAK SUSU, MENDUKUNG PETERNAK LOKAL

Peningkatan konsumsi protein di negara-negara Asia dipicu oleh terjadinya peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan jumlah kelompok pendapatan menengah, tingginya urbanisasi, revolusi supermarke dan berkembangnya teknologi informasi yang membuat dunia semakin terintegrasi. Perubahan pola makan masyarakat urban semakin variatif dengan mengonsumsi protein hewani seperti daging, susu dan produk turunan susu seperti yoghurt, keju, dan mentega.
 
Foreign Agricultural Service of United States Department of Agriculture(USDA) di2016 melaporkan bahwa konsumsi susu per kapita di Indonesia mengalami peningkatan rata-rata sebesar 6% per tahun dalam periode 2012-2015. Namun, konsumsi masyarakat Indonesia dapat dikatakan masih sangat rendah (14,3 liter/kapita/tahun) jika dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia (50,9 liter), Singapura (44,5 liter), Thailand (33,7 liter) dan Filipina (22,1 liter).
 
Masih rendahnya konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa perlunya gerakan atau promosi untuk meningkatkan konsumsi susu, terutama untuk anak-anak yang sedang menjalani proses pertumbuhan dan ibu hamil. Susu diyakini sebagai satu-satunya makanan yang memiliki kandungan nutrisi yang lengkap yang dibutuhkan manusia terutama selama periode awal pertumbuhan, yaitu pada masa balita dan remaja. Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan masih ada sekitar 50% ibu hamil di pedesaan dan perkotaan yang memiliki tingkat kecukupan protein dibawah 80% (standar 57gram/hari). Sedangkan, untuk bayi dan balita, ada sekitar 48,9% yang menderita gizi kurang dan 6,8% yang menderita gizi sangat kurang. Pemenuhan gizi pada masa awal pertumbuhan sangat penting karena akan mempengaruhi perkembangan fisik dan otak.
 
Ketika masyarakat Indonesia didorong untuk mengkonsumsi susu dalam rangka tercapainya masyarakat yang sehat, pertanyaan selanjutnya adalah apakah industri dalam negeri kita siap untuk memfasilitasi permintaan dalam negeri kita? Kenyataannya adalah dengan kondisi permintaan susu dalam negeri saat ini, kapasitas produksi domestik Indonesia belum dapat memenuhi tingginya permintaan susu di Indonesia. Indonesia masih menjadi net importir karena masih harus mengandalkan impor susu sebesar 80 %. Jumlah populasi sapi perah pada tahun 2016 tercatat sebanyak 533.860 ekor dengan produksi susu sebanyak 853.951 ton, dimana 98 % produksi tersebut berpusat di Pulau Jawa, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah serta 2 % tersebar di beberapa daerah seperti di Sumatera dan Sulawesi. Rendahnya produksi dalam negeri dikarenakan industri persusuan yang didominasi oleh peternak rakyat skala kecil dengan tingkat pemilikan 3-5 ekor sapi per rumah tangga dimana standar ekonomisnya adalah 10-12 ekor.
 
Usaha peningkatan konsumsi susu harus didukung oleh peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Industri persusuan di Indonesia dapat dikatakan memiliki potensi pasar yang cukup besar dengan melihat tingginya ketergantungan terhadap impor. Apakah kita akan membiarkan negara lain untuk terus meraup manfaat dari pangsa sebesar 80% tersebut?Indonesia memiliki potensi baik dari segi geografis, ekologi dan kesuburan lahan di beberapa wilayah. Saat ini pusat produksi hanya fokus pada daerah Jawa saja (98% dari total produksi) dimana diperlukan pengembangan ke daerah lain seperti di Sumatera dan Sulawesi dengan alasan masih banyak lahan yang dapat dimanfaatkan untuk hijauan dibandingkan di Jawa.
 
Pengembangan industri persusuan di Indonesia harus dilakukan secara holistik dimana pengembangannya dilakukan dengan pendekatan rantai pasok. Maksudnya adalah pengembangannya dilakukan di semua rantai pasok. Ketika masyarakat didorong untuk meningkatkan konsumsi susu, maka sisi produksi pun juga harus dikembangkan. Pemerintah Indonesia telah manargetkan pencapaian swasembada susu sebesar 40% pada 2020. Pencapaian target ini pun harus didukung oleh program marketing yang baik dari sisi konsumen untuk meningkatkan konsumsi per kapita per tahun. Misalnya dengan program minum susu untuk anak sekolah yang dapat dipromosikan di lingkungan sekolah. Data terakhir dari BPS mencatat bahwa jumlah anak sekolah pada tingkat TK,SD, SMP, SMA, SMK,MA, MI,dan MTS sekitar 56 juta pelajar pada tahun ajaran 2013/2014 atau sekitar 22% dari total populasi Indonesia. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat dibutuhkan untuk dapat mendorong pelaksanaan program minum susu untuk anak sekolah.
 
Sebuah contoh sukses telah diperlihatkan oleh pemerintah India dengan pencanangan program Revolusi Putih (RP). Keberhasilan program ini dipicu oleh keseimbangan pengembangan di sisi permintaan dan penawaran. Pemerintah sangat ekstensif melakukan intervensi dan adanya peningkatan permintaan akibat pertumbuhan populasi, pendapatan, urbanisasi dan perubahan pola makanan. Sedangkan dari sisi penawaran, pemerintah telah menyiapkan industrinya dengan teknologi produksi dan pengolahan, kelembagaan dan infrastruktur yang memadai. Peran kelembagaan koperasi susu yang berperan sebagai jembatan (bridge) antara peternak di pedesaan dengan konsumen di perkotaan merupakan inovasi kelembagaan yang berkontribusi besar terhadap keberhasilan revolusi putih.
 
Pencanangan program peningkatan konsumsi susu diharapkan dapat menjadi stimulus yang positif bagi peternak lokal untuk meningkatkan produksi susu mereka. Peternak lokal akan memiliki insentif untuk berusaha melakukan peningkatan produksi misalnya dengan mengadopsi inovasi atau teknologi. Capacity building pada tingkat koperasi susu untuk melakukan produksi sendiri perlu didorong dan difasilitasi agar dapat melakukan pengolahan sederhana susu segar atau memproduksi produk turunan sederhana dari susu untuk menciptakan nilai tambah(value added). Oleh karena itu, dukungan nyata pemerintah terhadap peternak lokal sangat diharapkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas susu sehingga potensi pasar tidak hanya dirasakan oleh perusahaan-perusahaan besar saja. Peningkatan produksi diharapkan dapat diterjemahkan sebagai peningkatan pendapatan bagi peternak rakyat. Dengan semakin tingginya konsumsi susu, anak-anak bangsa akan semakin sehat dan cerdas, peternak rakyat juga akan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
 
Manajemen rantai pasok yang efektif dan efisien merupakan instrumen yang ampuh dalam mewujudkan industri susu yang tangguh. Industri susu yang tangguh dicirikan dengan adanya jaminan insentif harga yang adil bagi peternak lokal, tersedianya bahan baku susu yang stabil (baik kuantitasmaupun kualitas) bagi industri pengolah susu (IPS) dan tersedianya produk susu dan produk olahannya yang berkualitas tinggi (aman dan sehat) bagi konsumen dengan harga yang terjangkau. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan 3 (tiga) pilar kebijakan, yaitu (a) adanya harga acuan susu nasional, (b) disiplin dalam perencanaan produksi dalam negeri dan kebutuhan impor, dan (c) kontrol impor dengan instrumen TRQs(tariff rate quotas). Ketiga pilar kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan penyerapan susu dalam dalam negeri. TROBOS


*Ahli Ekonomi Industri Peternakan, Sekolah Bisnis IPB

Sumber: http://www.trobos.com/detail-berita/2017/06/01/22/8916/arief-daryanto-minum-lebih-banyak-susu-mendukung-peternak-lokal---

Kembali ke arsip