beranda » artikel » Mail5 pdf word print Bookmark and Share
29-Sep-2017

ARIEF DARYANTO : MODERNISASI DAN KEMITRAAN PERUNGGASAN YANG INKLUSIF

Industri ayam ras merupakan produk pangan yang memiliki prospek pasar yang sangat baik. Dari sisi permintaan terhadap produk-produk peternakan ayam ras ke depan selalu meningkat karena beberapa faktor, yaitu pertama, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan pendapatan, semakin banyaknya penduduk kelas menengah, urbanisasi, perubahan gaya hidup, harapan hidup semakin besar dan penduduk usia tua. Kedua, seiring dengan peningkatan daya beli permintaan terhadap makanan yang siap masak (ready to cook) dan siap santap (ready to eat) semakin meningkat, terutama di perkotaan. Ketiga, semakin banyaknya QSR (Quick Service Restaurant) yang menawarkan beragam produk olahan daging ayam ras. Keempat, semakin banyak konsumen terkait dengan alasan kesehatan beralih dari daging merah ke daging “putih” ayam. Kelima, produk ini memiliki peran sebagai penyedia protein hewani yang paling murah dibandingkan dengan komoditas peternakan lainnya.
 
Walaupun industri ayam ras memiliki prospek pasar yang sangat baik tetapi industri ini juga menghadapi ancaman nyata yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya. Pada saat ini Indonesia telah berswasembada daging ayam ras. Hal ini karena selama ini Pemerintah Indonesia sangat melindungi pasar dalam negeri.Peta persaingan dalam industri ini akan segera berubah karena WTO (World Trade Organization) memenangkan gugatan sengketa dagang DS477 dan DS478 yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Selandia Baru terkait hambatan impor yang diterapkan Indonesia terhadap produk hortikultura, hewan, dan produk hewan mereka.
 
Disamping itu, Indonesia berpotensi kalah dalam menghadapi gugatan Brazil dalam kasus DS 484. Brazil menilai bahwa perizinan impor Indonesia sebagai pelarangan dan pembatasan impor daging ayam dan produk ayam dari negara mereka. Kekalahan beruntun Indonesia tersebut merupakan pelajaran penting dalam perumusan kebijakan ke depan. Dalam rangka menghadapi ancaman terbukanya impor daging ayam ras, maka tidak ada pilihan lain agar para pelaku usaha dengan dukungan pemerintah untuk senantiasa melakukan upaya modernisasi dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas,dan daya saing daging ayam ras. Peningkatan kapasitas produksi, produktivitas dan daya saing dapat dilakukan dengan berbagai upaya di sepanjang rantai nilai (value chain). Upaya-upaya yang harus dilakukan tersebut antara lain adalah (a) peningkatan produktivitas (yield), (b) efisiensi dan ketersediaan bahan baku pakan terutama jagung dan kedelai, (c) peningkatan efisiensi dan kualitas dalam industri pakan nasional, (d) peningkatan kemampuan (skills) dan manajemen produksi di tingkat usaha ternak; peningkatan nilai tambah (value added) di tingkat pengolahan; dan peningkatan branding di tingkat konsumen. Selain itu tidak kalah penting adalah peningkatan keamanan pangan melalui pengembangan tracking and tracing.
 
 
Kemitraan yang Inklusif
Tantangan utama industri perunggasan nasional adalah bahwa industri ini sangat sensitif terhadap harga input (biaya) dan harga output. Kemampuan industri dalam mengelolafluktuasi  (volatilitas) harga input danoutputinimerupakankunciutama dalammenghadapi dinamika persaingan dalam industri ini. Tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh belahan dunia, bisnis peternakan ayam rasmerupakan suatu kegiatanusaha yang sangat sensitif terhadap biaya input dan harga outputnya. Biaya   pakandalam industri ayamrasmemiliki kontribusi yang sangat besar, sekitar 65-70 %dari total biaya produksisecara keseluruhan.
 
Tingkat volatilitas harga pakan dan output yang tinggi menuntut para peternak baik skala kecil, menengah dan besar untuk selalu melaksanakan upaya cost-savingagar dapat memperoleh kesempatan lebih besar untuk mengurangi biaya pokok produksi (BPP) dan kemudian meningkatkan daya saingnya. Upaya “cost-saving” tersebut dalam industri ayam ras dapat dilakukan melalui integrasi vertikal atau konsolidasi peternak broiler skala kecil menjadi skala menengah sehingga lebih efisien dan posisi rebut tawar (bargaining position) menjadi lebih besar.
 
Belajar dari negara-negara yang berhasil mengekspor daging ayam ras, seperti misalnya Amerika Serikat, Brazil,dan Argentina, keberhasilan mereka terletak pada penerapan kombinasi berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah (a) adanya iklim yang sesuai yang membuat biaya pengelolaan kandang menjadi lebih murah, (b) biaya tenaga kerja yang relatif rendah, (c) adanya dukungan kuat produksi jagung dan kedelai lokal yang melimpah, (d) adanya produksi modern yang terintegrasi (contract farming) antara perusahaan inti dan peternak plasma (dapat menggunakan skema koperasi), (e) adanya perusahaan besar dengan manajemen yang baik, peralatan yang modern, inovatif dan berbasis pasar (market driven), dan (f) adanya iklim investasi atau kebijakan pemerintah yang kondusif.
 
Kemitraan kontrak (contract farming) dalam industri perunggasan di dunia adalah merupakan suatu keniscayaan. Mengingat risiko bisnis yang tinggi, kemitraan kontrak merupakan salah satu pilihan bagi peternak untuk memitigasi atau berbagi risiko. FAO menyatakan bahwa kemitraan kontrak merupakan sumber pertumbuhan baru dalam pertanian termasuk perunggasan. Sistem kemitraan kontrak dapat didefinisikan sebagai suatu mekanisme kelembagaan (kontrak) yang memperkuat posisi tawar-menawar peternak dengan cara mengkaitkannya secara langsung atau pun tidak langsung dengan badan usaha yang secara ekonomi lebih kuat. Melalui mekanisme kontrak, peternak skala kecil dapat beralih dari usaha tradisional/subsisten ke skala produksi yang lebih besar dan bahkan berorientasi ekspor. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan penghasilan peternak skala kecil yang ikut dalam sistem kontrak tetapi juga mempunyai dampak pengganda (multiplier effects) bagi perekonomian di pedesaan maupun perekonomian dalam skala yang lebih luas.
 
Melalui kemitraan “contract farming”dapat diciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas yang tidak hanya menciptakan pertumbuhan tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi kesenjangan pendapatan,dan mengurangi jumlah masyarakat miskin terutama di pedesaan.Kalaupun di lapangan masih ditemukan beberapa fakta bahwa kemitraan di industri perunggasan yang masih tidak sehat karena sebagian besar kerja sama antara inti dan plasma tidak memiliki perjanjian tertulis atau kalaupun tertulis tetapi tidak seimbang, maka kehadiran pemerintah diperlukan sebagai wasit. Kehadiran pemerintah sangat diperlukan agar kemitraan dalambisnis perunggasan sama-sama menguntungkan perusahaan inti, plasma,dan termasuk konsumen.TROBOS
 
*Ahli Ekonomi Industri Peternakan, Sekolah Bisnis IPB (SB-IPB)

sumber: http://www.trobos.com/detail-berita/2017/09/01/22/9274/arief-daryanto--modernisasi-dan-kemitraan-perunggasan-yang-inklusif---

Kembali ke arsip