beranda » beritaalumni » Mail5 pdf word print Bookmark and Share
01-Sep-2016

FALSAFAH BURUNG DARI KOTA MADINAH

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Imam T.Saptono, Direktur Utama BN1 Syariah, eresapi betul makna kalimat itu. Alkisah, pada 2008, Imam dan istrinya, Susanna Fitri, memenuhi panggilan ibadah haji ke Tanah Suci. Kala itu dia masih di BN1 sebagai deputi koordinator untuk proyek pengembangan nonorganik. Statusnya pro-hire berbasis kontrak. Tugasnya mempersiapkan spin 015‘ unit usaha syariah (UUS) BN1 menjadi bank syariah. Sementara, istrinya accounting manager di Citibank. 
Saat itu, sebagai pembimbing ibadah haji di rombongan Imam ialah K.H. Didin Hafidhuddin, Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), yang juga mantan calon presiden dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “Ustad Didin itu inspirasi saya,” ungkap Imam kepada Darto Wiryosukarto, Ari Nugroho, dan Erman Subekti (fotografer) dari Infobank, di kantornya, di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, medio Mei lalu. Imam menempatkan Didin di posisi istimewa. Sebab, atas tausiah-nya, Imam makin yakin dengan pilihannya, yang kemudian menjadi titik balik dalam perj alanan karier profesionalnya di dunia perbankan. Selama membimbing jemaah haji, Didin memberikan tausiah secara tematik. Nah, saat di Kota Madinah, Didin memberikan tausiah tentang konsep masyarakat madani dan konsep ekonomi syariah yang berhasil menekan angka inflasi.Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Imam T.Saptono, Direktur Utama BN1 Syariah, eresapi betul makna kalimat itu. Alkisah, pada 2008, Imam dan istrinya, Susanna Fitri, memenuhi panggilan ibadah haji ke Tanah Suci. Kala itu dia masih di BN1 sebagai deputi koordinator untuk proyek pengembangan nonorganik. Statusnya pro-hire berbasis kontrak. Tugasnya mempersiapkan spin 015‘ unit usaha syariah (UUS) BN1 menjadi bank syariah. Sementara, istrinya accounting manager di Citibank.
    Didin juga menyampaikan hukum riba, sesuatu yang mengena ke diri Imam karena bekerja di bank konvensional yang menerapkan sistem bunga. Imam merasa dilematis. Dia pun langsung berkonsultasi dengan Didin, apakah harus keluar dari pekeljaannya saat itu agar terhindar dari hukum riba. Didin cukup arif memberikan penjelasan ke Imam. Menurutnya, harus dipikirkan baik-baik jika mau keluar dari pekeijaannya. “Apakah nafkahi keluarga saat keluar nanti terjamin atau tidak. Sebab, menafkahi keluarga sama wajibnya,” ujar Didinseperti ditirukan Imam.   Atas jawaban tersebut, Imam merasa cukup lega. Dalam pemikjrannya, pada situasi “darurat” masih diperkenankan untuk tetap bekerja di tempatnya saat itu. Namun, Imam salah duga. Ternyata, jawaban Didin tidak berhenti di situ. “Kendati demikian, di dunia ini, yang namanya burung dan binatang melata pun sudah dijamin rezekinya oleh Allah.”
    Tak perlu berlama-lama bagi Imam untuk mencerna falsafah burung dan binatang melata yang dilontarkan Didin. Apalagi, dalam hadis juga disebutkan ada empat perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah bagi makhluknya, yakni rezeki, umur, amal, dan nasib. Makanya, sepulang haji, tak hanya Imam, istrinya juga ikut “hijrah”, keluar dari tempatnya bekerja. Susanna memilih jadi ibu rumah tangga. Sementara, Imam tak selang lama dipanggil oleh Gatot M. Suwondo, Direktur Utama BN1 saat itu, karena proses spin ofi‘telah selesai. “Saya ditanya, mau kesyariah atau balik ke BNI karena akan dicarikan pos. Saya memilih ke bank syariah,” ujar Imam yang memilih bergabung dengan BN1 Syariah,'dengan jabatan sama sebagai wakil koordinator. Ketika BN1 Syariah resmi beroperasi pada 2010, Imam diangkat menjadi direktur kepatuhan dan manajemen risiko, kemudian menjadi direktur bisnis pada 2012 dan dipercaya menjadi direktur utama pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BN1 Syariah pada 26 Februari 2016.
    Perjalanan karier Imam hingga duduk di kursi direktur utama makin meyakinkan din‘nya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta. Imam mengilas balik bagaimana dia dulu gagal ikut Management Development Training Program (MDTP) sebagai syarat untuk menjadi manajer di BN1. “Kalau lulus dari situ langsung pegang posisi, seperti jadi pemimpin cabang. Kalau tidak lulus masuk program spesialisasi,” aku pria kelahiran Jakarta, 18 November 1969, itu. Ada delapan kompetensi yang harus lulus, sementara Imam hanya lulus di lima kompetensi. Meski kelima kompetensi lulus dengan superior, dia tetap dinyatakan tidak lulus. Konsekuensi logisnya, dia tidak bisa menjadi pemimpin di BN1. Secara manusiawi, saat itu Imam bisa saja “patah arang” karena jenjang kariernya seperti terbentur dinding.
Namun, dia mengambil sikap lain. “Saya meneruskan kepakaran saya,” tegas doktor management business dari Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Pilihan sikap Imam ini terkait dengan filosofi hidup yang dia pegang bahwa seseorang tidak akan bisa berkembang jika terlalu sibuk dengan sesuatu yang tidak bisa mengontrolnya. Filosofi yang dia adopsi dariThe 7Habits oingth Effective People-nya Stephen R. Covey ini menjelaskan bahwa dalam hidup ini ada dua hal, yakni circle of influence dan circle of concern. Circle of influence adalah kejadian alam atau yang tidak bisa dikontrol, sementara circle of concern sebaliknya. “Jika suatu hari kita bangun kesiangan sehingga terlambat berangkat kerja, itu masuk area circle of influence. Nah, apakah kita akan terus uring-uringan atau segera melupakan kejadian tersebut, itu masuk area circle of concern. Selama ini kita banyak disibukkan oleh circle of influence,” papar Imam yang masih aktif sebagai dosen di program magister IPB dan Universitas Trisakti itu.
    Filosofi tersebut sejalan dengan keyakinan Imam bahwa segala sesuatu yang teijadi terhadap seseorang di dunia itu selalu atas izin Sang Pencipta. Tugas kita sebagai makhluk ciptaan-Nya ialah menyikapi dengan sebaik-baiknya. “Saya terinspirasi surat Ali Imron ayat 109 yang menyebutkan bahwa kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan,” urai Imam.
 
Sumber : JUNI 2016 | infobank 81 2016
 

Kembali ke arsip