Mahasiswa SB IPB Perdalam Keterampilan CPR Dewasa melalui Simulasi Kasus Kegawatdaruratan Terpadu
Mahasiswa SB IPB Perdalam Keterampilan CPR Dewasa melalui Simulasi Kasus Kegawatdaruratan Terpadu
Bogor — Rangkaian pelatihan Basic Life Saving (BLS) bagi mahasiswa Program Sarjana Sekolah Bisnis IPB berlanjut dengan topik “CPR Dewasa dan Simulasi Kasus Terpadu” yang diselenggarakan pada Jumat, 29 Mei 2026 pukul 13.30–15.30 WIB secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh 23 mahasiswa dan menghadirkan dr. Widya Eka Nugraha, M.Si.Med. sebagai narasumber.
Berbeda dengan sesi sebelumnya yang berfokus pada pengenalan kondisi darurat dan pertolongan pertama, pelatihan kali ini lebih menitikberatkan pada penanganan henti jantung pada orang dewasa melalui penerapan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) yang tepat dan terstruktur. Materi dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai peran masyarakat awam dalam meningkatkan peluang keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa tindakan pertolongan oleh orang yang pertama kali berada di lokasi kejadian (bystander) memiliki peran yang sangat penting dalam rantai keselamatan korban henti jantung. Respon cepat berupa pengenalan kondisi korban, aktivasi bantuan darurat, serta pelaksanaan CPR yang berkualitas dapat meningkatkan peluang hidup korban secara signifikan.
Peserta memperoleh pemahaman mengenai tahapan bantuan hidup dasar pada korban dewasa, mulai dari penilaian keamanan lokasi, pemeriksaan respons korban, identifikasi pola pernapasan yang tidak normal, hingga langkah-langkah melakukan kompresi dada yang efektif. Selain aspek teknis, mahasiswa juga diajak memahami pentingnya koordinasi dan pengambilan keputusan yang cepat dalam situasi kritis.
Materi juga membahas konsep Chain of Survival sebagai pendekatan sistematis dalam penanganan henti jantung, yang mencakup pengenalan dini kondisi kegawatdaruratan, aktivasi layanan darurat, pelaksanaan CPR, penggunaan Automated External Defibrillator (AED), hingga perawatan lanjutan oleh tenaga kesehatan. Peserta diperkenalkan pada fungsi AED serta pentingnya ketersediaan alat tersebut di ruang publik untuk mendukung keberhasilan pertolongan pada korban henti jantung.
Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah kualitas CPR yang diberikan kepada korban. Narasumber menekankan bahwa efektivitas kompresi dada, kontinuitas tindakan, serta kemampuan mengenali perubahan kondisi korban merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses resusitasi. Mahasiswa juga diberikan pemahaman mengenai pemberian bantuan napas dan berbagai pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.
Untuk memperkuat pemahaman konseptual, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi kasus terpadu yang mengintegrasikan seluruh tahapan penanganan kegawatdaruratan yang telah dipelajari pada sesi-sesi sebelumnya. Melalui diskusi berbasis kasus, peserta diminta menganalisis situasi yang diberikan, mengidentifikasi prioritas tindakan, serta menentukan langkah penanganan yang paling tepat berdasarkan prinsip bantuan hidup dasar.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman teknis mahasiswa, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang membutuhkan respon cepat. Diskusi yang berlangsung aktif menunjukkan antusiasme peserta dalam memahami penerapan konsep CPR pada berbagai skenario kegawatdaruratan yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, Sekolah Bisnis IPB terus mendorong penguatan kompetensi mahasiswa di bidang keselamatan dan kesiapsiagaan darurat. Diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami prinsip bantuan hidup dasar secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan pola pikir yang sistematis dan responsif ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Editor: Hapriza Aprilia